Tampilkan postingan dengan label keamanan pangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keamanan pangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 September 2016

Makanan Berformalin masalah yang terus Berulang



Sebenarnya kasus penggunaan formalin pada tahu, ikan asin, mie basah, ikan laut segar, daging ayam segar hingga bakso, bukanlah berita baru, tetapi selalu berulang setiap tahun. Ketika berbagai media heboh memberitakan hal tersebut, biasanya konsumen akan ramai-ramai berhenti membeli dan mengosumsi makanan tersebut. Namun biasanya hal itu hanya terjadi sesaat. Setelah berita mulai reda, maka produsen akan kembali ke kebiasaannya yang lama, yaitu menggunakan formalin lagi. Konsumen pun tanpa curiga kembali membeli dan mengkonsumsi produk berformalin.

Makanan Berformalin masalah yang terus Berulang

Beberapa alasan mengapa pengusaha senang menggunakan formalin. Penggunaan formalin pada tahu, mie basah, dan ikan asin jenis cumi-cumi misalnya, tidak hanya mampu mencegah kebusukan, tapi juga mampu mengawetkan dalam waktu lama, serta membuat tekstur bahan pangan lebih kenyal. Juga membuat ayam dan ikan segar nampak lebih bersih, putih dan berisi. Konsumen sendiri turut mendorong produsen menggunakan formalin, karena umumnya konsumen menginginkan tahu yang keras dan kenyal, mie yang kenyal,

Kamis, 15 September 2016

Beberapa Jenis Mikroba Pencemar Bahan Makanan



Listeria monocytogenes
Listeria monocytogenes dapat:
• mencemari pangan segar seperti sayuran mentah, buah segar, daging mentah, unggas mentah, ikan mentah, susu murni, dan lain sebagainya.
• menyebabkan keguguran pada wanita hamil dan meningitis (radang selaput otak)
pada bayi yang baru lahir serta immunocompromised (gangguan pada sistem kekebalan tubuh) pada orang dewasa.

Tips untuk meminimalkan risiko:
Cuci buah dan sayuran yang dikonsumsi langsung dengan air matang.
Jika bahan pangan mentah bersumber dari hewani seperti daging, unggas dan hasil laut
lakukan pemasakan sampai benar-benar matang (suhu internal pemasakan mencapai
70-850C).


2. Staphyloccocus aureus
Staphyloccocus aureus merupakan:
• bakteri indikator keamanan pada susu dan produk susu, seperti susu pasteurisasi, yoghurt, unggas, ikan, kerang, daging dan produk daging, telur dan produk telur, sayuran, dan pangan matang.
• menimbulkan gejala penyakit seperti mual,
muntah, kejang perut, dan diare.
• mati dengan pemasakan sempurna (70oC).
• umumnya hidup di kulit manusia dan hewan.
Tips untuk meminimalkan risiko:
Hindari kontak langsung dengan pangan matang.
Gunakan alat seperti sendok, penjepit dan garpu apabila mengambil pangan matang

3. Salmonella sp
Salmonella sp dapat mencemari telur, daging, ikan, susu, es krim, kelapa kering, salad kentang, permen cokelat dan ditemukan pada air yang terkontaminasi dengan kotoran manusia yang terinfeksi.
*Gejala yang ditimbulkan oleh mikroba patogen ini adalah diare berair, sembelit, demam, sakit
perut, pusing, mual, lesu.

4. Virus Hepatitis A
Virus Hepatitis A dapat mecemari pangan yang kurang matang, menular melalui
makanan dan minuman yang tercemar VHA atau melalui tinja.
Personal hygiene yang buruk merupakan faktor utama penyebaran virus ini.
• Gejala yang ditimbulkan oleh mikroba ini antara lain muntah, diare, kulit dan mata
kuning (jaundice), demam, dan sakit perut.
• Virus ini menyebabkan radang pada lambung dan gangguan kesehatan, terutama pada hati dan ginjal.
Tips untuk mengurangi risiko:
Lakukan praktek keamanan pangan yang baik.
Masak pangan dengan suhu > 70oC.
Simpan bahan pangan pada suhu < 4oC.

5. Bacillus cereus
Bacillus cereus dapat mencemari pangan yang tersisa seperti nasi goreng.
• Penyebaran bakteri ini terutama karena terjadi penyebaran spora dalam jumlah
besar pada pangan yang telah dimasak. Spora akan bergerminasi (tumbuh) bila proses pendinginannya berlangsung dengan lambat.
• Gejala awal yang ditimbulkan oleh mikroba ini adalah mual dan muntah. Pada kasus enterotoksin terjadi sakit perut, diare berair, dan kram perut 4-16 jam setelah mengonsumsi pangan yang
terkontaminasi.
• Sakit akibat mikroba ini akan berlangsung selama 12-24 jam hingga beberapa hari, tetapi jarang berakibat fatal.
Tips untuk meminimalkan risiko:
Segera konsumsi pangan matang dan jika ada sisa simpan pangan dalam kondisi panas (di
atas 60°C) atau dingin (di bawah 5°C).
Jika hendak dikonsumsi kembali panaskan ulang pangan pada suhu internal di atas 74°C

6 . Campylobacter jejuni
Campylobacter jejuni dapat mencemari daging unggas khususnya ayam.
• Data menunjukkan 98% bakteri Campylobacter jejuni ditemukan pada karkas ayam.
• Gejala yang ditimbulkan oleh mikroba patogen ini adalah demam, sakit perut, mual, sakit kepala, sakit pada otot, dan diare yang mungkin berair atau lengket dan dapat mengandung darah.
Tips untuk meminimalkan risiko:
Simpan bahan pangan hewani pada suhu di bawah 5oC.
Untuk pemanasan kembali hanya boleh dilakukan satu kali sampai suhu 85oC

Selasa, 13 September 2016

Pilih Pangan yang Aman, Bergizi, dan Bermutu



Pangan merupakan kebutuhan pokok, yang saat ini memiliki fungsi yang semakin berkembang. Jika
sebelumnya, pangan hanya identik dengan pelepas rasa lapar, namun seiring perjalanan waktu pangan juga menjadi pemuas kebutuhan sensori. Tidak aneh jika kini berkembang wisata kuliner sebagai bagian ekonomi kreatif bernilai tinggi. Semakin banyak orang yang berburu makanan lezat dan nikmat untuk mendapatkan pleasure. Lebih dari itu, saat ini juga berkembang tren pangan fungsional, dimana pangan tidak hanya sekedar memenuhi kebutuhan gizi reguler, tetapi juga memberikan manfaat kesehatan tertentu, seperti menurunkan risiko penyakit jantung koroner, meningkatkan sistem imun, mendukung kesehatan saluran pencernaan, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pangan memiliki kaitan yang sangat erat terhadap kesehatan manusia.


Sayangnya, praktek-praktek yang tidak baik seringkali membuat pangan yang dikonsumsi justru menimbulkan bahaya. Produk yang terkontaminasi dapat menimbulkan penyakit akibat bawaan pangan atau yang sering disebut sebagai foodborne disease. Dampak yang diakibatkan bisa seketika atau terakumulasi dalam waktu yang panjang. Oleh sebab itu, konsumen harus cerdas memilih produk pangan yang akan dikonsumsinya.

Berikut ini beberapa kiat praktis yang dapat digunakan memilih/membeli pangan jajanan yang aman.
1. Aman dari Bahaya Fisik
·         Hindari pangan yang dijual di tempat terbuka dan tanpa penutup atau kemasan.
Hindari pangan yang dijual oleh pekerja yang mengenakan perhiasan tangan yang berpeluang untuk lepas dan jatuh ke dalam makanan.
·         Hindari pangan yang dijual oleh penjual yang menangani pangan jualannya secara sembrono.
·         Hidari pangan yang pembungkusnya distapler
·         Amati kondisi pangan sebelum dikonsumsi. Apakah ada benda asing di dalamnya?
2. Aman dari Bahaya Kimia
·         Memilih hanya pangan yang bersih dan tertutup dari debu
·         Membeli buah-buahan, terutama buah potong, yang sudah dicuci dengan bersih.
·         Membeli pangan yang dijual di tempat yang bersih dan terlindung dari matahari, debu, hujan, angin dan asap kendaraan bermotor.
·         Hindari membeli pangan dari penjual yang lokasi berjualannya jauh dari tempat sampah serta bebas dari binatang dan hama.
·         Jangan membeli pangan yang dibungkus dengan kertas bekas atau kertas koran untuk membungkus pangan.
·         Jangan terpedaya dengan harga murah. Pangan yang mengandung bahan pangan buatan berlebihan atau bahan tambahan terlarang dan berbahaya biasanya dijual dengan harga murah.
·         Amati warnanya. Jika warna makanan atau minumam terlalu mencolok atau terlalu cerah maka besar kemungkinan pangan tersebut mengandung pewarna tekstil.
·         Cicipi rasanya. Jika terdapat rasa yang menyimpang. Maka pangan tersebut mungkin mengandung BT terlarang atau BTP yang berlebihan. Sebagai contoh, jika ada rasa pahit setelah mengonsumsi es campur, maka produk tersebut mungkin mengandung pemanis buatan yang berlebihan. Penggunaan pengawet benzoate yang berlebihan akan memberikan rasa sepat pedas yang akan menggetarkan alat pengecap kita.
·         Waspadai pangan gorengan yang terlihat berwarna gelap dan lebih keras dari normalnya. Gorengan ini mungkin sisa yang tidak habis terjual pada hari sebelumnya dan digoreng ulang.